Man Jadda Wa Jadda

Dikalangan santri mahfudhat ini mungkin sudah tak asing lagi, bisa jadi karena saking mudahnya untuk dihafal dan dilafalkan, sehingga seolah-olah maknanya menjadi biasa-biasa saja, keluarbiasaanya sirna, sedangkan sisanya hanya tulisan dalam kitab dan lebihnya merupakan rekaman yang terpatri dalam memori bersangkutan masing-masing saja.

Maknanya yang seolah lenyap dalam kandungan “Barang siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat”, sudah merupakan buah konsekwensi logis saja sebenarnya dari lajunya proses yang seharusnya masih berlanjut, namun yang terjadi adalah terhenti di tengah-tengah perjalanan. Mungkin kejadian lebih disebabkan oleh mandegnya informasi yang mendukung lajunya proses trasformasi tersebut, sehingga hanya membuahkan verbalisasi saja yang berwujud pada orasi atau khitobah semata, teori gitu lho.

Proses masih berlanjut dan tidak berhenti sampai disini, dunia santri terus berbenah diri dengan percepatan teknologi informasi yang kian membahana. Secara perlahan namun pasti, proses transformasi semakin kentara buahnya. Santri yang dahulunya indentik dengan sarung, kopiah, kitab kuning, belajar dan mengajar ngaji di mushalla, di masjid, serta mondok di pesantren, kini sudah tidak lagi beratribut seperti itu.

Karena kini eranya paradigma baru, santri bisa seorang birokrat, politisi, profesional, pengusaha, karyawan, akademisi, mahasiswa, guru, siswa, tentara, dst. atau dibidangnya masing-masing, yang mau iqro kekinian dan mengimplemtasikan ilmunya bagi kemaslahatan kemanusiaan, dengan ahlaqul karimah yang kasih dan sayang. Begitulah santri saat ini, ragam dan warna-warni, saling bersinergi dalam kehidupan.

Wah…, ngelanturnya kepanjangan nih. Oke, kita langsung saja kembali ke pokok bahasan. Dan saya hanya men-share makna “man jadda wa jadda” ini, barang sepatah atau dua patah saja, dan jika masih di rasa kurang, saya persilahkan anda mencarinya sendiri agar lebih jelas dan terang adanya.

Begini maksudnya, makna mutiara kata “barang siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat”, dapat ditinjau dengan dua pendekatan, pertama pendekatan secara positive, dan kedua pendekatan secara negative. Dua kubu ini, jika ditinjau dari ilmu komputer akan menjadi prinsip kerja yang positif yaitu GIGO (Gold In Gold Out), dan prinsip kerja yang negative yaitu GIGO (Garbage In Garbage Out).

Mekanismenya dapat diurai menjadi: Input – Proses – Output. Mekanisme proses ini tentunya harus didukung oleh perencanaan yang matang, terukur, dan tepat sasaran. Di dalam implementasinya juga harus berdasarkan pada fungsi-fungsi manajemen yang aplikatif, seperti manajemen-nya pak Deming, yaitu PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang tujuannya adalah agar proses standar mutu yang bergulir dapat ditingkatkan menjadi mutu yang prima.

Sebagai contoh, suatu produk sepatu yang memiliki mutu dan kwalitas yang prima akan diburu oleh konsumennya, jadi bukannya sepatunya yang memburu konsumen, tetapi konsumennya yang memburu sepatu tersebut. Mutu dan atau kwalitas itu kalau diibaratkan seperti magnet yang mampu menarik semua benda yang bermaget disekelilingnya. Makanya, jadilah maget atau ber-magnet atau ber-mutu sesuai bidangnya masing-masing.

Contoh berikutnya adalah dosen. Dosen haruslah kompeten dibidangnya serta memiliki kredibelitas yang baik. Kredibel disini dapat diartikan sebagai berproduksi, misalnya: penelitiannya, walaupun penelitian saat ini belum menjadi industri, enggak apa-apa, pasti ada manfaatnya; buku karangannya banyak diterbitkan; tulisannya terpampang diberbagai media; atau minimal blog-lah.

Memaknai fenomena di atas dapat dengan “khoiru nass anfa’uhunm li-nnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia” atau dengan kata lain, katika manusia telah menjadi magnet/berkualitas, maka menurut Profesor Yohannes Surya menyebutnya dengan mestakung (semesta mendukung) mu.

Kembali ke topik, pada proses cycle inilah sebenarnya yang memungkinkan terjadinya perubahan mutu yang akan bermuara pada continuous improvement atau perbaikan yang berkelanjutan. Dan untuk itulah, mari kita menuju perubahan yang signifikan itu, dengan meng-up-grade diri kita menjadi diri yang baru (tobe a new you). Selanjutnya terserah anda.

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



7 Komentar:

Anonim mengatakan...

Udah sungguh-sungguh, terus-menerus, tujuannya berguna buat orang banyak, tapi gak dapet-dapet. Sistem dan semestanya gak mendukung. Hehehehe :D

Memang jantung suatu sistem semesta adalah proses. Masukan proses yang paling awal adalah niat. Kalau udah niat emang pasti dapet. Begitu "niat" langsung "kun".

Masukannya gold or garbage, keluarannya gold or garbage yang bernilai tambah. Masukannnya niat baik, keluarannya niat baik juga. hehehe.... dapetnya apa? Dapet proses. hehehehe... Jadi semua pasti dapat kalau sungguh-sungguh.

Masalahnya gemana agar sungguh-sungguh yang lebih deket dari urat leher sendiri. Sungguh-sungguh yang masukannya garbage keluarannya gold dalam semesta yang tidak mendukung :)

DetakHIDUP mengatakan...

Harus dibedakan dulu maunya dirimu dan maunya Tuhan-mu, maunya diri lebih membumi, sedangkan mau-Nya Tuhan-mu melangit, kalau dah bisa bedain disitu nampak sungguh-sunggnya, kemana meluncurnya niat ke yang terbatas atau tak terbatas. Kalau meluncurnya niat ke yang tak terbatas, maka bakal ketemu fitrah maka mestakung, he..he..he..

Temui posisi la khaufun alaihim walahum yahjanun, enggak cumua garbage jadi gold, atau sebaliknya, mau jungkir balik juga bisa, hik.. hik.. hik..

Tohar mengatakan...

Man jadda wa jadda adalah penerapan dari Kun Fayakun.. dari sisi manusia tentunya. Niat baik.. diwujudkan dengan perbuatan baik dan jadilah "FAYAKUN".. terjadi

abdul mengatakan...

Dalam kontek perwujudan suatu niat kebaikan insyaAllah akan berwujud pula kebaikan. Sebagaimana inamal a’malu binniah.

Namun harus disadari bahwa menjalankan suatu niat kebaikan harus dilakukan dengan konsisten [sungguh2] sampai dengan selesai. Karena dalam praktiknya terdapat pula peluang2 menurunnya kesungguhan yang mengakibatkan terjadinya ketidak konsistenan dalam sebuah niat. Suatu contoh di dalam shalat ada shalat yang lalai.

abdul mengatakan...

lanjutan.

Kun faya kun itu kehendak/ maunya Allah atas segala sesuatu.
Allah mengalirkan kehendak-Nya itu kepada manusia ke dalam dada.
Kehendak itu memiliki dua jalan 1. aliran kefujuran 2. aliran ketakwaan. [Faalhama ha fujurroha wa taqwaha]

Wilayah “man jadda wa jadda” adalah sunnatullah yang merupakan area perjuangan kita untuk menuju tujuan. Tinggal kita saja pintar2 memilih jalan untuk mengaplikasikan “man jadda wa jadda” itu ke dalam kehendak-Nya yang di ridoi atau sebaliknya.

Much Tohar mengatakan...

Bener mas. bener sekali penjelasannya. Nanam jagung ya panen jagung. Menanam padi, ya memanen padi selama dirawat dengan baik. Kalau ndak dirawat ya diserang hama. Analogi saja mas abdul.

abdul mengatakan...

analogi yang bagus..
silahkan dicek emailnya mas

Posting Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner