Selasa, Juni 23, 2009

Tingkat Percaya VS Tingkat Menerima

Tulisan ini hanya ulasan singkat mengenai tingkat percaya dan tingkat menerima yang dimiliki seseorang. Tingkat percaya bersifat kritis dan mudah cidera [luka] bahkan bisa menjadi gugur percayanya atau menjadi tidak percaya lagi [runtuh]. Sedangkan tingkat menerima bersifat luas lagi tidak mudah cidera [luka], namun demikian akan menjadi bumerang bila tidak dapat menerimanya atau tidak terima. Tingkat percaya seseorang bisa saja diberikan kepada barang/jasa [layanan] dan dapat juga kepada orang lain. Sedangkan tingkat menerima seseorang akan disandarkan kepada wadahnya [dada/sudur] dengan sifatnya yang khas yaitu luas atau sempit di dalam menerimanya.

Tingkat Percaya

Terhadap barang/jasa [layanan], tingkat percaya seseorang akan sangat bergatung sekali dengan kepuasan yang diterima. Sebanding atau lebih [untung] dari nilai tukar yang dikeluarkan untuk barang/jasa [layanan] yang bersangkutan. Jika tak sebanding atau kurang [rugi] akan berakibat pada cidera/runtuhnya percaya pada barang/jasa [layanan] terkait.

Biasanya seseorang yang tingkat percayanya tinggi / rendah [puas / tidak puas] terhadap barang / jasa [layanan] akan secara langsung mengkomentari [memberi tahu orang lain] rasa puas dan tidak puasnya itu, yang dapat berakibat pada meningkatnya percaya atau runtuhnya percaya seseorang kepada barang/jasa [layanan] itu.

Sedangkan kepada seseorang, tingkat percaya dapat didasarkan kepada sidik [jujur / bersih dari tindak keji dan munkar], amanah [tindakannya jujur / bersih terhadap amanah yang diembannya], tablig [penyampaiannya jelas / yang sulit jadi mudah] dan fathonah [cerdas dalam menyelesaikan tugas & masalah bila ada].

Tingkat percaya seseorang dapat diciderai oleh prilaku diri yang busuk seperti kizib [dusta / tidak jujur], khianat [ingkar / tidak bersih dalam mengemban tugas / amanah], kitman [penyampaiannya menutupi / pemutar balik “salah jadi benar dan benar jadi salah”], baladah [bodoh / tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik / bermasalah]. Jika dibiarkan sifat-sifat tersebut dapat berimbas kepada runtuhnya tingkat percaya seseorang sekaligus menjerumuskan diri dalam kenistaan.

Tingkat percaya seseorang kepada seseorang pun dapat diciderai oleh pihak ketiga melalui hembusan iri, dengki dan fitnah.

Lalu bagaimana, jika tingkat percaya seseorang dihubungkan dengan percaya kepada Tuhan? Apakah kondisinya tetap kritis atau tidak? Dan mengapa ada orang yang tidak percaya adanya Tuhan?. [perlu dikaji lebih lanjut]. Dimanakah letaknya percaya itu, di otak atau di dada? Samakah Iman dengan Percaya? Silahkan pertanyaan-pertanyaan ini dijawab saja masing-masing supaya lebih mengena dan sesuai dengan pengalamannya yang dialami.

Tingkat Menerima

Tingkat menerima dengan wadah yang sempit akan berakibat pada meluapnya marah, kesal, juengkel dan seterusnya singkatnya EMOSI meluap dan meledak-letak dapat berbentuk verbalisasi maupun aksi yang tidak terkontrol. Ini disebabkan karena wadah menerimanya sempit alias tidak menerima alias menolak menerima alias TIDAK TERIMA. Dan kalau sudah tidak terima kaya gini buntutnya bisa jadi bakal lebih panjang lagi. Bakal ada adu hebat, bakal ada adu kuat, dan bakal ada yang tidak terima lagi, bahkan bisa sampai turun-temurun tidak terimanya.

Sedangkan tingkat menerima dengan wadah yang luas ini tidak mudah untuk diciderai oleh yang diterimanya itu. Seperti dikasih sedikit diterima, dikasih banyak diterima, tidak dikasih diterima, diberi cacian diterima, dikasih hinaan diterima, dan dikasih apapun sama Yang Maha Pengasih diterima dengan keluasan dada sang penerima itu.

Sang penerima yang bisa menerima segala Pemberian Tuhan ini, sejatinya tidak lagi melihat awannya, tetapi yang dilihatnya adalah yang menggerakkan awan itu, yang menggerakkan hidup itu dan ketika gerak itu semakin nyata maka “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”, yang asalnya pemberian Allah akan kembali kepada Allah. Dan inilah sabar, sabar yang sulit untuk urai menjadi kata-kata, kecuali dirasakan sendiri realitasnya.

[Al Baqarah:155-156]
[155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [156] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Teguh
[08]• Rela atau Terpaksa Menerima

Read more...

Jumat, Juni 19, 2009

Rela Atau Terpaksa Menerima

Manusia sebagai khalifah dibekali otak untuk memakmurkan kehidupan di dunia, dibekali kelamin untuk berkembang biak dan dibekali dada/hati agar dapat merasakan secara langsung akibat dari perbuatannya berupa derita atau bahagia. Dan derita atau bahagia merupakan cermin dari adanya neraka dan surga di hari pembalasan kelak.

Tak hanya itu para Rasulullah pun diutus Allah sebagai suri tauladan dengan membawa Burhan untuk membedakan mana yang gelap dan mana yang terang, mana yang buruk dan mana yang baik, agar dalam menjalani hidup sang khalifah dapat bermanfaat bagi sesamanya “khairunnas anfau’hum linnas” bahkan lebih dari itu, “inna akromakum inda’allahi atsqokum”.

Tubuh manusia tak ubahnya wadah yang dialiri gerak hidup [ruh] untuk menjadi wakil Allah di dunia. Yang namanya wadah tarpaksa atapun rela tetap saja wadah sebagai tempat menerima. Nah menerima ini kalau diibaratkan seperti sungai mengalirkan air dari hulu hingga ke hilir, mengalir dari ketinggian hingga sampai ke tempat-tempat yang lebih rendah dibawahnya yang pada akhirnya akan bermuara kelautan yang luas.

Kondisi wadah inilah yang perlu diperhatikan agar selalu dalam kondisi rela menerima kebaruan dan kekinian yang diterima oleh otaknya yang masuk melalui cerapan indera mata dan telinga yang selanjutnya dipersepsi [dirasa-rasa/dikira-kira] yang bersumber dari rekaman otaknya, lalu dibandingkan, dinilai dan dijatuhkan fonis. Ditolak karena dianggap salah atau diterima karena dianggap benar. Posisinya “benar/salah” adalah relatif tergantung dari sudut mana dan siapa yang memandangnya.

Contoh relatifnya adalah “babi itu haram untuk dikonsumsi”, kalimat ini diterima oleh orang-orang Islam karena adanya perintah untuk meninggalkannya. Namun ada juga yang menolaknya kalimat tersebut karena tidak adanya perintah yang melarangnya. Inilah yang saya maksud dengan “benar/salah” adalah relatif. Karena memang tiada kebenaran mutlak kecuali yang Maha Benar itu sendiri yang Mutlak Benarnya.

Keterpaksaan dalam menerima akan berdampak pada perubahan suasana [reciever/dada/hati/rasa] menjadi ketidak nyamanan dari sebelumnya. Inilah kenyataan yang seringkali terjadi. Alih-alih ingin berada di suasana yang nyaman tetapi karena ketidak relaan wadah dalam menerima yang di dapat malah rasa sebaliknya. Yaitu rasa prahara, rasa derita, rasa pedih, rasa kesal, rasa gundah, rasa marah dst. dan sungguh rasa-rasa itu begitu amat menyiksa alias berada dalam miniatur neraka.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa rela menerima itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak seperti mengedipkan kedua belah mata. Ya, ikuti saja pergerakan hidup dengan rela dari menerima yang satu ke menerima yang lainnya agar tidak menjadi beban bagi si wadah itu. Alirkan saja seperti air yang mengalir di sungai hingga sampai ke lautan yang luas. Maka, yang air akan bermuara ke air, yang tanah akan terurai kembali dengan tanah, yang udara akan menyatu dengan udara, dan yang asalnya dari Allah akan kembali kepada Allah.

[Al Fushshilat:11]
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Teguh

Read more...

Selasa, Juni 16, 2009

Teguh

Sebagai ilustrasi singkat seperti sebuah komputer yang dikoneksikan [kabel/nirkabel] ke dalam jaringan luas tanpa sekat batas alias internet. Koneksi internet [on-line] akan di dapat bila perangkat modemnya dalam kondisi aktif atau on.

Teguh orientasinya hanya kepada tujuan. Teguh kebergantungan kesadaran hanya kepada yang Maha Menyadarkan [adzkuruni adzkurkum – ingatlah Aku maka Aku ingat kamu]. Teguh atau istiqamah atau tiada khawatir atau tiada ragu alias tiada gamang sedikitpun atau ketetapan hatinya tetap [mantap] dan tidak berubah-ubah lagi karena cahaya iman menerangi dadanya

Lalu dari mana teguh itu timbul. Teguh timbul dari buah pembuktian seperti contoh “manisnya gula”. Teguh, tak cuma percaya pada kalimat yang mengatakan bahwa “gula itu manis“. Namun dibuktikannya dengan sungguh-sungguh. Dan ternyata memang benar adanya, “Ooo gula itu manis ya…”.

Ketika manisnya gula didapat dan dirasakan benar adanya manis, maka keteguhan atas manisnya gula ini tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai macam inputan yang bersifat eksternal. Seperti pengaruh berikut ini “gula itu pahit”, maka penikmat gula hanya terseyum-seyum saja dibuatnya.

[Al Ahqaaf:13]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah [teguh pendirian] maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

[Fushshilat:30]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

[Maryam:65]
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

[Luqman :22]
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

[An Nisaa':175]
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Rela atau Terpaksa Menerima

Read more...

Selasa, Juni 09, 2009

Sungguh-sungguh

Menurut KBBI [Kamus Besar Bahasa Indonesia]. Sungguh berarti benar atau betul (cocok dengan keadaan yang sebenarnya, tidak bohong). Selanjutnya sungguh-sungguh berarti tidak main-main; dengan segenap hati; dengan tekun; benar-benar: pekerjaan itu dilaksanakan. Sedangkan bersungguh-sungguh v [1] berusaha dengan sekuat-kuatnya (dengan segenap hati, dengan sepenuh minat): jika bersungguh-sungguh pasti tercapai juga cita-citamu itu; [2] sungguh-sungguh: saya yakin dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Begitupun dengan berbagai aktivitas yang kita lakukan hanya memiliki dua pilihan, yang pertama adalah sungguh-sungguh sedangkan yang kedua main-main. Singkatnya, mau yang sungguhan [benaran] atau mau mainan [bohongan]. Dan ketika kita tidak mampu melakukan aktivitas ibadah dengan bersungguh-sungguh maka secara sadar maupun tak sadar kita sedang beribadah dengan bermain-main.

Ada baiknya kita renungi kembali tingkat kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah, sudah sungguh-sungguh kah atau masih main-main.

[Al Anbiyaa' :55]
Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?"

[Al Insyiqaaq :6]
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

[Al Israa' :19]
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.

[Thaahaa :75-76]
[75]. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), [76]. (yaitu) syurga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya

Read more...

Rabu, Mei 27, 2009

Memanggil-manggil Asma-Nya

Ketika menyebut sebuah nama atau nama panggilan untuk ibu kita mungkin arah pikir kita akan langsung mengarah dan berada tepat pada sosok ibu kita masing-masing. Yaitu sosok yang lemah lembut, yang halus, yang penyabar, yang kasih sayang, yang tiada pamrih sedikitpun di dalam mengurus, menuntun, membimbing, mendidik anak-anaknya hingga dewasa.

Namun menjadi berbeda ketika kita dihadapkan kepada sebuah nama pencipta alam semesta yang para Rosul menyebutnya ALLAH. Kemanakah arah pikir kita tertuju? Kemanakah arah kesadaran kita mengarah? Di saat kita menyeru, dikala menyebut, dan saat mana kita manggil-manggil nama-Nya, kemanakah arah kesadaran kita berada?

Nah untuk bisa berada dan duduk dikesadaran memanggil-menyebut-menyeru Allah, tentunya harus banyak berlatih dengan sungguh-sungguh [jahadu], memanggil-manggil yang benaran dan bukan memanggil yang asal-asalan memanggil, tetapi memanggil yang serius, serius memanggil dengan teguh, teguh dalam memanggil, total dalam memanggil, dengan setotal-totalnya: ya Allah, ya Allah, ya Allah…, tidak perlu dihitung jumlahnya yang terpenting adalah kesungguhannya, kesungguhan kita dalam memanggil-memanggil-Nya.

Dan kesadaran kita saat memanggil-manggil nama-Nya itu jangan diarahkan kepada yang sesuatu, baik yang rupa, yang warna, yang huruf, pokoknya semua yang masih sesuatu wajib tiada kecuali yang bukan sesuatu wajib adanya. Yaitu Zat yang berbeda dengan segala sesuatu, Zat yang maha meliputi segala sesuatu, Zat yang maha dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita, Zat yang maha mendengar, Zat yang maha merespon atas segala panggilan-panggilan hambanya, saat itu panggillah Dia: “Allah” dengan rasa, “Allah” dengan jahadu, “Allah” dengan teguh, sampai terasa sambutan-Nya yang menggetarkan hati [wajilats qulubuhum].

Mari kita renungi beberapa ayat di bawah ini dengan hati dan pikiran yang jernih. Karena di setiap tarikan dan hembusan nafas yang berlalu, berarti nafas kita semakin dekat dan semakin lebih dekat tidak bernafas lagi. Sayang nafas kita yang tiada ternilai harganya terbuang percuma. Semoga Allah merahmati kita semua. Amin.

[Al Israa':110].
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu."

[Fushshilat:33].
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"

[Az Zumar:38].
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.

[Al An'aam:71-72].
[71]. Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak mendatangkan kemudharatan kepada kita dan kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami." Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. [72]. Dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepadaNya". Dan Dialah Tuhan yang kepadaNyalah kamu akan dihimpunkan.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil

Read more...

Senin, Mei 25, 2009

Bersyukur Atau Mengingkari

Ingin bertambah nikmat dan bertambah-tambah nikmatnya kuncinya adalah bersyukur dan bersyukur. Menurut Ibnu Faris, kata na‘ima mengandung makna pokok ‘kelapangan’ dan ‘kehidupan yang baik’. Kata ini juga bermakna segala sesuatu yang diberikan seperti rezeki, harta, atau lainnya. [Ensiklopedia PSQ]

Adalah hal yang logis saja bila kita memperoleh nikmat [kelapangan] dada kitapun turut menjadi lapang. Semakin kita syukuri nikmat-nikmat maka semakin lapang dada ini. [An Naml:40] “barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri”.

Namun sebaliknya jika kita mengingkari [tidak mensyukuri] atau mengingkari atau tidak menerima nikmat-nimat itu, maka sebagai akibatnya dada kita menjadi semakin sepit, semakin menjadi tidak menerima, menjadi sakit dan serterusnya.

[Ibrahim:7].
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih

[Ali 'Imran:145]
[145]. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

[Luqman:12]
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

[An Naml:40]
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."

[Az Zumar:7].
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Sedikit Sekali Yang Bersyukur
[02]• Belajar Bersyukur
[03]• Agar Kita Bersyukur
[04]• Mudah-Mudahan Kita Bersyukur
[05]• Muludan
[06]• Bersyukur Kepada Allah
[07]• Mengapa Tidak Bersyukur


Read more...

Minggu, Mei 24, 2009

Mengapa Tidak Bersyukur?

Rasulullah adalah abdan syakuura, Beliau pernah berpesan kepada Muadz bin Jabal: "Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu". Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a: Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah, ajari aku ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)".

Keterkaitan antara ingat kepada Allah, bersyukur kepada-Nya dan mengabdi kepada-Nya merupakan suatu siklus yang utuh dan tidak terpisahkan satu sama lainnya.

Ingat kepada Allah. Dalam surat Al Waaqi'ah ayat 68-70 “[68]. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. [69]. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? [70]. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”

Lihatlah air, jangan lihat airnya tetapi lihatlah [ingatlah] yang menciptakan air itu, Dialah Allah dan panggil-panggilah Dia selalu Allah. Ingat air maka ingatlah Allah.
Saat haus ingat air, saat ingat air, ingatlah yang menciptakan air yaitu Allah
Saat bertemu air, ingatlah air itu adalah karunia Allah
Saat bertemu karunia Allah, ingatlah nikmat Allah
Saat merasakan nikmat Allah, beryukurlah kepada Allah
Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…
Karena memang tiada yang bisa mendistribusian air ke seluruh tubuh ini kecuali hanya Allah.

Ungkapan bersyukurnya seorang hamba kepada Allah dapat juga dalam bentuk ibadah-ibadah sunah lainnya seperti shalat sunah, sedekah dst. Sebagaimana halnya Rasulullah yang senantiasa melakukan shalat malam untuk bersyukur kepada Allah.

Dalam upaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, kita diajarkan agar memohon dan meminta petunjuk-Nya agar dapat mensyukuri nikmat-nikmatnya.

Al-qur’an mengajak kita berdialog dengan menanyakan nikmat-nikmat yang diberikan namun tidak disyukuri. Mungkinkah kita yang diajaknya berdialog? Atau siapa? Mari kita renungkan ayat-ayat-Nya berikut ini:

[Yaasiin:71-73]
[71]. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? [72]. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. [73]. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

[Yaasiin:34-35]
[34]. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, [35]. supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

[Ibrahim:32-34]
[32]. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. [33]. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. [34]. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

[QS Alnahl:18]
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[An Najm:55]
Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?

[Ar Rahmaan:13].
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Sedikit Sekali Yang Bersyukur
[02]• Belajar Bersyukur
[03]• Agar Kita Bersyukur
[04]• Mudah-Mudahan Kita Bersyukur
[05]• Muludan
[06]• Bersyukur Kepada Allah
[07]• Bersyukur Atau Mengingkari

Read more...

Sabtu, April 11, 2009

Doa Mohon Ditunjuki Mensyukuri Nikmat

Saat otak kita galau, dada kita sempit, tangan dan kaki kita diseret oleh daya kefujuran untuk berbuat maksiat, begitu juga dengan mata, telinga, lidah, perut, dan kelamin kita yang sangat sering menarik-narik kita mengikuti daya fitrah yang mengalir didalamnya yang cenderung tidak terkendali ke arah perilaku dan perbuatan fujur (tidak baik), kita serahkan pula ke Allah agar dituntun oleh Allah dengan rahmat-Nya: "Ya Allah ini instrumen dan alat-alat kerja saya untuk menjalankan fungsi kekhalifahan saya dimuka bumi ini selalu saja menarik-narik saya menuju perbuatan yang tidak terkendali, mengarahkan saya kekejahatan. Selamanya akan selalu begitu, kecuali kalau Engkau aliri mereka dengan rahmat-Mu. Rahmatilah, kasihilah, sayangilah, ampunilah mataku, telingaku, lidahku, perutku, dan kelaminku, karena dengan rahmat, kasih dan sayang-Mu lah kesemuanya itu bisa tunduk kepadaku, dan membawaku sejalan dengan kehendak-Mu". [Yusdeka: 2008; Yang Terheran-Heran]

Saudaraku kini saatnya kita membagunkan jiwa, menghidupkan kesadaran, bukalah penglihatan dan bukalah pendengaran, selaraskan pikiran dengan kehendak didalam dada dan tundukkanlah hati. Bermohonlah pentunjuk-Nya, mintalah tuntunan-Nya dan ikutilah Bimbingan-Nya.

[Al-Ahqoof:15]
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orangtuaku dan supaya aku dapat melakukan amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."

[An-Naml:19]
"Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih."

“Ya Allah ajari aku ingat kepada-Mu, ajari aku bersyukur kepada-Mu, dan ajari aku beribadah dengan baik kepada-Mu”.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Sedikit Sekali Yang Bersyukur
[02]• Belajar Bersyukur
[03]• Agar Kita Bersyukur
[04]• Mudah-Mudahan Kita Bersyukur
[05]• Muludan
[06]• Bersyukur Kepada Allah

Read more...

Jumat, April 10, 2009

Bersyukurlah Kepada Allah

Menurut M. Quraish Shihab dalam ensiklopedia PSQ syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya'la dari Abu Khabab, dari Atha' yang berkata, "Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, 'Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!' Beliau menangis.

Kemudian ditanya kembali, 'Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan? Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, 'Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!' Aku menjawab, "Saya senang berdekatan dengan Anda,' tapi aku mengizinkannya. Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku' dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh. Aku bertanya kepada beliau, 'Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, 'Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.” [Al Baqarah:164].

[Luqman:14]
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu-bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu.

[Al 'Ankabuut :17]
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepadaNya lah kamu akan dikembalikan.

[Al Baqarah :152]
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

[Al Baqarah :172]
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

[An Nah:114]
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Sedikit Sekali Yang Bersyukur
[02]• Belajar Bersyukur
[03]• Agar Kita Bersyukur
[04]• Mudah-Mudahan Kita Bersyukur
[05]• Muludan
[06]• Mohon Ditunjuki Mensyukuri Nikmat

Read more...

Kamis, April 09, 2009

Mudah-Mudahan Kita Bersyukur

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan bila Dia berkehendak dan menghendakinya maka Allah berfirman kepadanya Kun [jadi] maka Fayakun [jadilah], mudah-mudahan ayat-ayat tentang kemaha kuasaan Allah atas segala sesuatu dapat menyetuh hati kita yang terdalam, menyentuh "ke-ngeh-an" kesadaran kita sehingga tanda-tanda kuasaan-Nya itu menyibakkan tirai penghalang yang selalu menutupi penglihatan diri untuk mensyukuri karunia-Nya. Semoga kita menjadi orang-orang yang bersyukur.

[Ar Ruum:46]
Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur.

[Al Jaatsiyah:12]
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.

[Al Hajj:36]
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Sedikit Sekali Yang Bersyukur
[02]• Belajar Bersyukur
[03]• Agar Kita Bersyukur
[04]• Muludan
[05]• Mohon Ditunjuki Mensyukuri Nikmat
[06]• Bersyukur Kepada Allah

Read more...
Iklan oleh Google
 
© Copyright by Magazine 1 Template | Template by Template4U And Blogspot Tutorial