Jumat, Oktober 09, 2009

Bila Lapar dan Haus Memanggil

Ketika muadzin memanggil dengan kumandang adzan ingatan kita pasti akan tertuju kepada shalat atau saat ramadhan menjelang kita langsung ingat puasa, zakat dan idul fitri, begitupun dengan idul adha kita akan teringat dengan qurban dan begitu seterusnya akan saling mengkait serta menyambung dari tahu terkini ke informasi berikutnya sampai habis.

Dan bila lapar dan haus memanggil kemanakah ingatan kita tertuju? Sudah tentu akan teringat dengan makan dan minum, simple bukan?

Tubuh raga sebagai bagian dari alam semesata akan senantiasa tunduk dan patuh atas segala titah Sang Maha Raja Pencipta jagat raya. Ketundukan dan kepatuhannya [tubuh] tak dapat disangsikan lagi. Selama duapuluh empat jam dalam sehari dia bekerja full tanpa henti bahkan dikala tidur dan sakit sekalipun dia tetap mempersembahkan layanan terbaiknya kepada Sang Penciptanya.

Kapanpun kita mau dan kapapun kita ingini untuk makan dan minum. Perut akan hayo saja “siap laksanakan segala perintah bos dan tuannya”. Dia siap menampung segala jenis makanan dan minuman seperti layaknya gudang saja begitu. Tak peduli barang tersebut halal atau haram, tak peduli baik atau buruk bagi kesehatan, tak peduli waktu menerimanya malam atau siang, tak penting siapa orangnya, tak pandang apa jabatannya, apalagi kelakuannya macam apa. Semuanya tidak dipandang oleh perutnya, kecuali kepada yang Maha Menciptakannya.

Lapar dan haus memanggil-manggil mengingatkan kepada tuannya, memberitahu kepada tuannya bahwa ring tone berbunyi merupakan suatu pertanda telah masuk pesan-pesan ke dalam inbox kita. Lalu, siapakah pengirim pesan-pesan itu?

Dia lah Penciptamu. Lillahi Robbil Alamin. Maka, bacalah… bacalah… bacalah. Iqra, dengan nama Tuhanmu. Yang menciptakanmu.

[Al A'raaf:31].
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

[Thaahaa:81].
Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.

[An Nahl:114].
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

[Al An'aam:142].
Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

[Al Baqarah:168].
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

[Al Baqarah:172].
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

[Al Maa'idah:88].
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Read more...

Selasa, Oktober 06, 2009

Kasih Sayang

Potret kemiskinan, kefakiran dan kepapaan merupakan daya-daya pendobrak yang menembus ke dalam relung jiwa-jiwa nan kaya, jiwa-jiwa yang dermawan, jiwa-jiwa yang peduli, jiwa-jiwa yang lembut, jiwa-jiwa yang mau mengalirkan kasih sayang ke dalam wadah yang tepat.

Begitupun dengan bencana alam, gampa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, yang memporak-porandakan, yang meluluh-lantahkan sarana dan prasarana, merengut jiwa, anak-anak menjadi yatim dan piatu, orang tua kehilangan anaknya, kehilangan saudaranya dan rumahpun hancur luluh dalam sekejab.

Pun sebagai daya dobrak, pendorong kasih sayang yang masih bersemayam di dalam hati agar mau keluar, agar mau peduli, agar mau berbagi, agar mau mengalirkan kasih sayangnya kepada saudara-saudarinya yang sangat membutuhkannya.

Setiap kejadian yang memilukan berdaya menyentuh jiwa, tak peduli siapapun orangnya, si kaya, si miskin, si pedagang, si pembeli, si pintar, si bodoh, si guru, si murid, pokoknya semua orang yang melihat, yang mendengar dan yang merasakan singkatnya adalah “mereka yang berhati”.

Hanya orang-orang yang berhati lunaklah yang tidak keras membatu dapat merasakan getaran kasih sayang-Nya, gerakan kasih sayang-Nya, yang langsung bersegera menyambut getaran dan gerakan dihatinya itu dengan mengalirkan kasih dalam mengasihi, mengalirkan sayang dalam menyayangi dan mengalirkan santun dalam menyantuni kepada sesamanya, kepada saudara-saudaranya yang sedang merasakan darita dengan linangan air mata dan kepiluan yang mendayu di hatinya.

Untuk itu, mari saudaraku kita berbagi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Mari kita ulurkan tangan atau memotivasi dengan lisan ataupun tulisan agar mereka tetap tegar dalam melewati episode hidupnya atau mendoakan mereka agar pulih sedia dari deritanya. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihinya, sayang-menyayanginya dan santun-menyantuninya, bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit maka menderita pula keseluruhan tubuh”. [al-hadist]

Read more...

Senin, September 14, 2009

Ubahlah

Informasi yang tersimpan dalam otak dapat di reload karena kita ingini dan dapat juga di ulang kembali aktivitasnya karena disukai. Me reload dan mengulang kembali bila dilakukan secara terus-menerus akan tertanam dan terprogram dalam bawah sadar yang secara otomatis akan bekerja.

Bila otak lebih banyak menyimpan informasi positif maka responnya biasanya positif, sedangkan bila otak lebih banyak menyimpan informasi negatif maka responnya pun akan negative. Seperti poci, bila diisi air teh maka keluarnya air teh, bila diisi air kelapa maka keluarnya air kelapa, bila diisi air kopi maka keluarnya air kopi, dst.

Kecendrungan kerja alam bawah sadar adalah mengkases informasi yang sering digunakan. Contoh, seseorang tidak mungkin bisa sabar jika sabar serta suasananya belum/tidak tersimpan di dalam otaknya. Alih-alih ingin bersabar yang dipilih namun malang malah marah yang diraih. Pasalnya sederhana bawah sadar hanya akan mengakses informasi yang kuat dan yang sering digunakan.

Dari keinginan timbul rasa ingat, dari rasa ingat timbul untuk mewujudkan yang diingatnya itu. Siapapun kita dapat menggunakan dan mengoptimalkan rasa ingat ini untuk kepentingan pribadi atau non pribadi.
Karena bermula dari rasa ingatlah manusia memulai perubahan hidupnya di dunia dan akhiratnya. Sebagai informasi tambahan terkait rasa ingat ini, di barat ada hukum tarik menarik [law of attraction] dan di timur ada quantum ikhlas. Adakah keterkaitan dari kedua temuan tersebut terhadap rasa ingat...? silahkan dikaji lebih lanjut sendiri-sendir saja.

Perubahan Individu

Pengubahan diri dimulai dari upaya mengingat Allah sebanyak-banyak agar Allah pun ingat kepada para pengingat-Nya [ingatlah AKU maka AKU ingat kamu]. Harus disadari pula bahwa daya upaya kita tiada yang sia-sia karena Allah bakal merespon sesuai dengan janji-Nya. Siapapun orangnya jika ingin mengubah dirinya ter-upgrade menjadi pribadi baru maka gunakanlah rasa ingat ini sebagai power [daya ubah] untuk mengubahnya. Nantinya berpulang kembali kepada individu terkait, mau kemana diarahkan rasa ingatnya itu kepada yang materi atau yang bukan materi, kepada Tuhan atau selain tuhan.

Perubahan Kolektif

Lapar datang tidak setahun sekali, namun rasa lapar datang setiap hari, bisa pagi, siang dan malam. Sedangkan datangnya rasa kenyang sebenarnya tak jauh beda. Pada sisi lainnya ada juga yang merasakan laparnya sama persis seperti diatas tetapi merasakan kenyangnya kadang cuma dua kali atau sekali saja dalam sehari. Sungguh kontras memang..

Istilahnya..., kita lapar dilaparkan dan kenyang dikenyangkan. Pasalnya sederhana saja, kita tidak akan bisa membuat rasa lapar dan tidak bisa bisa membuat rasa kenyang. Kecuali hanya Allah saja yang membuatnya sang Maha Pencipta alam semesta. Sedangkan kita dikasih berdaya upaya MENELAN tok. Selanjutnya di dalam berdaya upaya pun kita diwanti-wanti untuk tidak mengakauinya karena “la haula wala quwwata illa billah”. Tiada.

Dan nyatanya yang bisa menelan ini tak cuma kita-kita saja tetapi para hewan pun dapat melakukannya yang tak jauh beda caranya. Lalu dimana posisinya bahwa kita lebih mulia dari binatang-binatang itu? Yup, yaitu pada caranya siapa yang bakal kita tauladani. Caranya para Nabi yang berahlak mulia atau caranya hewan yang teridak berahlaq.

Ingin mengubah rasa lapar menjadi rasa kenyang saja kita-kita mesti dipancing dahulu oleh rasa lapar baru kemudian kita tergerak berupaya kerja keras untuk memenuhi kebutuhan jasmani tersebut. Namun sekali lagi bahwa rasa kenyang itu bukan karya cipta kita para manusia, tetapi Allah lah yang menciptakannya rasa itu juga perubahan atas rasa itu. Allah tidak merubah rasa lapar dan haus menjadi rasa sebaliknya bila orang-orang yang lapar dan haus tidak mau merubahnya dengan makan dan minum.

Begitupun dengan perubahan dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan. Suatu perubahan kolektif tidak mungkin sekonyong-konyong terjadi seperti perubahan rasa lapar ke rasa kenyang. Semisal perubahan dari posisi A [Penjajahan] ke B [Kemerdekaan].

Ketika pahit getirnya penjajahan dirasakan oleh banyak orang [rakyat], maka suasana rasa pahit dan getirnya itu sebenarnya yang menjadi pemicu serta mendorong timbulnya keinginan untuk berubah ke rasa sebaliknya yaitu rasa kemerdekaan yang tidak ada rasa pahit dan getirnya karena memang rasanya dijajah itu tidak enak. Lalu muncul keinginan kolektif untuk berubah menuju ke posisi B. Selanjutnya bergerak dan berubah menuju ke posisi B. “Suara rakyat itu adalah suara Tuhan”.

”Allah tidak merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau mengubahnya”. [Ar-ra’d:11].

Setidaknya dari ayat diatas kita digugah dan diajak untuk menjadi agent off change, menjadi orang-orang yang peduli, menjadi orang-orang yang mau mengubah keadaan diri ataupun keadaan kolektif menuju keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan cara yang baik agar memperoleh hasil [perubahan] yang sebaik-baiknya. Semoga…



Read more...

Minggu, September 13, 2009

Daya Ubah

Semua orang pasti berkinginan untuk berubah, yang miskin ingin menjadi kaya, yang bodoh ingin menjadi pintar, yang jahat ingin menjadi baik, yang sakit ingin menjadi sehat dan seterusnya. Caranya ada yang baik dan pula yang tidak baik, tentunya dengan konsekwensi yang berbeda-beda dan begitupun dengan daya gunanya.

Manusia sekedar “ingin” saja tak mampu membuatnya. Ya.. cuma sekedar ingin saja manusia harus dipancing-pancing dahulu, harus dikasih informasi awal dahulu atau harus merasakan tekanan-tekanan dahulu atau harus merasakan pahit getir dahulu baru kemudian ada rasa ingin atau daya ubah dalam hati kita.

Seperti ingin makan tidak mungkin ada jika sebelumnya tidak merasakan lapar. Lapar merupakan informasi awal yang memicu dan mendorong keluarnya rasa ingin untuk makan. Bayangkan jika rasa ingin itu tidak ada maka entahlah, namun demikian rasa ingin harus diarahkan kepada jalan mulia dan bukannya jalan hina lagi menghinakan.

Mari amati sejenak dari hati kita yang terdalam adakah keinginan yang mengebu untuk berubah dan mengubahnya dari [keinginan] menjadi [kenyataan].

Read more...

Kamis, September 10, 2009

Berpuasa Agar Bertaqwa

Berpuasa merupakan wujud perjuangan jiwa dalam menundukan hawa nafsu dengan melepaskan ikatannya agar tidak membelenggu keluasan jiwa. Puasa dengan kata lain berjuang tidak meresponi keinginan-keinginan, seperti: tidak menuruti keinginan perut, tidak menuruti keinginan sahwat dan tidak menuruti keinginan pikiran liar. Singkatnya, mengabaikan semua keinginan kecuali tujuan, seperti orang lewat yang menuju ke arah tujuan maka semuanya akan dilewati kecuali tujuannya.

Jika diibaratkan berpuasa itu seperti kusir delman yang sedang berupaya [berjuang] dengan segenap kemampuannya menundukkan si kuda delmannya yang belum jinak agar mau tunduk dan patuh kepada perintah dan maunya pak kusir delman itu.

Singkat cerita pak kusir pun berhasil menjinakkan si kuda delman hingga mau menuruti segala perintah tuannya. Hingga kemanapun tuannya mau maka kesanalah delman akan berlari.

Pernah Abu Hurairah ditanya oleh seseorang tentang taqwa yang dijawab dengan balik bertanya, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang penuh duri?” orang itu menjawab “Tentu saja”. “Lalu apa yang engkau lakukan?” ia menjawab, “Jika aku melihat duri, aku akan menyingkirkannya atau menghindarinya”, kata Abu Hurairah, “demikian itulah takwa”

Berpuasa adalah jalan singkat menuju taqwa sedangkan taqwa merupakan jalan cepat menuju kefitrahan jiwa agar dapat kembali kepada fitrah asalnya [idul fitri]. Kefitrahan sejati tandanya adalah nafas, yang selalu bergerak, tidak tidur, tidak ngantuk, tidak makan, tidak minum, tidak wanita dan tidak pula pria, maka tidak ada perubahan pada kefitrahan jiwa itu.

Begitupun dengan fitrah Allah,
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [ArRuum: 30].

Kefitrahan jiwa yang sudah tidak berubah-ubah, tidak terombang-ambing, tidak maju-mundur dan tidak terbolak-balik lagi oleh instrumennya alias jiwanya telah berada diposisi mutmainnah [jiwa yang tenang]. Jiwa-jiwa yang demikian akan ikut, akan melok, akan selaras [in-line dan online] dengan perintah Allah, selaras dengan tuntunan Allah, selaras dengan bimbingan Allah dan selaras dengan maunya Allah. Wa'allahu a'lam.



Read more...

Jumat, Agustus 07, 2009

Memberi Dengan Kasih Sayang

Seperti orang tua yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Mereka akan berupaya dengan segenap kemampuan untuk mencukupi segala kebutuhan dan keperluannya, mulai makanan, minuman [yang halal, baik juga sehat], pakaian, memelihara kesehatan serta menyiapkan pendidikannya [knowledge, skill, language and attitude] sampai jenjang yang tertinggi, bahkan ada pula yang telah menyiapkan tempat tinggalnya kelak bila telah berkeluarga.

Memberi dengan kasih sayang semata-mata karena Allah mengalirkan kasih sayang-Nya kepada orang tua dan begitupun orang tua mengalirkan pula kasih sayangnya kepada anak-anaknya dan seterusnya.

Singkatnya, memberi jangan cuma materi saja tetapi barengi dengan kasih sayang. Walaupun hanya sedikit [semampunya] bila dengan kasih sayang, maka kasih sayangnya akan dipancarkan kembali oleh penerimanya.

Suatu hal yang wajar bila seseorang “lagi punya” ia mampu memberi. Ya…, memberi karena memang “lagi ada”, memberi karena memang ada hak orang lain di dalamnya. Namun akan jadi beda dan luar biasa jika seseorang “tidak punya” kemudian dia mampu memberi, maka sudah pasti memberinya itu tak sekedar memberi tetapi karena adanya aliran kasih sayang Ilahi untuk memberi.

Memberi tak sekedar memberi, karena memberi selalu diawali adanya kehendak [daya] yang dialirkan yang Maha Pengasih lagi Penyayang ke dalam dada. Dan saat kehendak memberi itu dilaksanakan maka rasa bahagia dan plong meresap ke dalam dadanya. Hal ini senada dengan tausiahnya Habib Abdullah Assegaf di masjid Nurul Haq Jakarta Timur pada peringatan Isra Mi’raj [Rabu, 29 Juli 2009], beliau mengatakan; “sungguh, memberi itu lebih nikmat dari pada menerima”.

Keyakinan Habib memang sangat beralasan. Pasalnya, beliau terjun langsung bersama ayahnya [alm] memberi makan kepada siapapun yang singgah dikediamannya. “Ini benar dan tak bohong”, ujar habib dengan semangat tausiyah. Karena beliau telah merasakannya sendiri kalau memberi itu nikmat.

Memberi seperti ini tak hanya dapat dinikmati manfaatnya oleh penerima tetapi pemberinya pun dapat merasakan kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri dari kebaikannya yang ia lakukan. Dan sungguh, rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

Lalu bagaimana bila memberi dapat langsung dirasakan kenikmatannya [kebahagiaan] dan seterusnya bagi para pemberinya? Mungkin, akan ada banyak orang yang berlomba-lomba mengabdi kepada Allah, berlomba-lomba mendistribusian karunianya Allah, berlomba-lomba menebarkan rahmatnya Allah, berlomba-lomba mengalirkan kasih sayangnya Allah, berlomba-lomba memberi kebaikan dan berbagi kemaslahatan karena Allah. Karena memang sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi kemaslahatan hidup manusia.

Read more...

Senin, Juli 27, 2009

Pemberi dan Penerima

Memberi dengan kasih sayang, memberi yang diminta, memberi yang tak diminta, memberi tanpa hitungan, memberi dengan kesempurnaan memberi, sejatinya hanya Allah Tuhan semesta alam, Dzat yang Maha Hidup, Dzat yang Maha Meliputi segala sesuatu, Dzat yang Maha Mengetahui segala kebutuhan makhluk-Nya, Dzat yang Maha Mengabulkan dengan Maha cara-Nya. "Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan" [Ar Rahman:29].

Rela tak rela manusia adalah mahluk penerima [amanah]. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh.”[Al-Ahzab:72 ].

Sejatinya penerima adalah sang khalifah wakil Allah di bumi, yang menjadi wakil-Nya dalam memakmurkan kehidupan manusia dan melestarian alam di planet bumi ini dengan kasih sayang, yang menjadi wakil-Nya dalam me-regenerasi keturunan dengan berupaya membangun: generasi yang sidik [jujur/bersih dari tindak keji dan munkar]; generasi yang amanah [lurus / tidak membuat kerusakan di muka bumi]; generasi yang tablig [outputnya bermanfaat bagi kehidupan dan kelestarian alam]; dan generasi yang fathonah [cerdas spiritual], kecerdasannya bermanfaat, kecerdasannya menjadi rahmat, kecerdasannya bermartabat di sisi Tuhan [taqwa].

Pendek kata, menerima itu untuk memberi, menerima itu untuk menyalurkan, menerima itu untuk mengalirkan dan menerima itu untuk menyampaikan. Karena si penerima layaknya sang distributor, seperti si kurir sang abdi, sang wakil [khalifah] yang siap mengalirkan air ke area persawahan kering.

Sedangkan bagi penolak mengalirkan air kehidupan sama saja dengan menolak menjadi distributor-Nya, menolak menjadi kurir-Nya dan menolak menjadi abdi-Nya. Maka menolaknya itu berarti mengingkari [amanah-Nya] dan jika mengingkari [amanah-Nya] berarti juga mengkhianati Tuhan-nya, singkatnya para penolak [amanah] ini disebut dengan si pengkhianat Tuhan.

Read more...

Selasa, Juni 23, 2009

Tingkat Percaya VS Tingkat Menerima

Tulisan ini hanya ulasan singkat mengenai tingkat percaya dan tingkat menerima yang dimiliki seseorang. Tingkat percaya bersifat kritis dan mudah cidera [luka] bahkan bisa menjadi gugur percayanya atau menjadi tidak percaya lagi [runtuh]. Sedangkan tingkat menerima bersifat luas lagi tidak mudah cidera [luka], namun demikian akan menjadi bumerang bila tidak dapat menerimanya atau tidak terima. Tingkat percaya seseorang bisa saja diberikan kepada barang/jasa [layanan] dan dapat juga kepada orang lain. Sedangkan tingkat menerima seseorang akan disandarkan kepada wadahnya [dada/sudur] dengan sifatnya yang khas yaitu luas atau sempit di dalam menerimanya.

Tingkat Percaya

Terhadap barang/jasa [layanan], tingkat percaya seseorang akan sangat bergatung sekali dengan kepuasan yang diterima. Sebanding atau lebih [untung] dari nilai tukar yang dikeluarkan untuk barang/jasa [layanan] yang bersangkutan. Jika tak sebanding atau kurang [rugi] akan berakibat pada cidera/runtuhnya percaya pada barang/jasa [layanan] terkait.

Biasanya seseorang yang tingkat percayanya tinggi / rendah [puas / tidak puas] terhadap barang / jasa [layanan] akan secara langsung mengkomentari [memberi tahu orang lain] rasa puas dan tidak puasnya itu, yang dapat berakibat pada meningkatnya percaya atau runtuhnya percaya seseorang kepada barang/jasa [layanan] itu.

Sedangkan kepada seseorang, tingkat percaya dapat didasarkan kepada sidik [jujur / bersih dari tindak keji dan munkar], amanah [tindakannya jujur / bersih terhadap amanah yang diembannya], tablig [penyampaiannya jelas / yang sulit jadi mudah] dan fathonah [cerdas dalam menyelesaikan tugas & masalah bila ada].

Tingkat percaya seseorang dapat diciderai oleh prilaku diri yang busuk seperti kizib [dusta / tidak jujur], khianat [ingkar / tidak bersih dalam mengemban tugas / amanah], kitman [penyampaiannya menutupi / pemutar balik “salah jadi benar dan benar jadi salah”], baladah [bodoh / tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik / bermasalah]. Jika dibiarkan sifat-sifat tersebut dapat berimbas kepada runtuhnya tingkat percaya seseorang sekaligus menjerumuskan diri dalam kenistaan.

Tingkat percaya seseorang kepada seseorang pun dapat diciderai oleh pihak ketiga melalui hembusan iri, dengki dan fitnah.

Lalu bagaimana, jika tingkat percaya seseorang dihubungkan dengan percaya kepada Tuhan? Apakah kondisinya tetap kritis atau tidak? Dan mengapa ada orang yang tidak percaya adanya Tuhan?. [perlu dikaji lebih lanjut]. Dimanakah letaknya percaya itu, di otak atau di dada? Samakah Iman dengan Percaya? Silahkan pertanyaan-pertanyaan ini dijawab saja masing-masing supaya lebih mengena dan sesuai dengan pengalamannya yang dialami.

Tingkat Menerima

Tingkat menerima dengan wadah yang sempit akan berakibat pada meluapnya marah, kesal, juengkel dan seterusnya singkatnya EMOSI meluap dan meledak-letak dapat berbentuk verbalisasi maupun aksi yang tidak terkontrol. Ini disebabkan karena wadah menerimanya sempit alias tidak menerima alias menolak menerima alias TIDAK TERIMA. Dan kalau sudah tidak terima kaya gini buntutnya bisa jadi bakal lebih panjang lagi. Bakal ada adu hebat, bakal ada adu kuat, dan bakal ada yang tidak terima lagi, bahkan bisa sampai turun-temurun tidak terimanya.

Sedangkan tingkat menerima dengan wadah yang luas ini tidak mudah untuk diciderai oleh yang diterimanya itu. Seperti dikasih sedikit diterima, dikasih banyak diterima, tidak dikasih diterima, diberi cacian diterima, dikasih hinaan diterima, dan dikasih apapun sama Yang Maha Pengasih diterima dengan keluasan dada sang penerima itu.

Sang penerima yang bisa menerima segala Pemberian Tuhan ini, sejatinya tidak lagi melihat awannya, tetapi yang dilihatnya adalah yang menggerakkan awan itu, yang menggerakkan hidup itu dan ketika gerak itu semakin nyata maka “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”, yang asalnya pemberian Allah akan kembali kepada Allah. Dan inilah sabar, sabar yang sulit untuk urai menjadi kata-kata, kecuali dirasakan sendiri realitasnya.

[Al Baqarah:155-156]
[155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [156] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Teguh
[08]• Rela atau Terpaksa Menerima

Read more...

Jumat, Juni 19, 2009

Rela Atau Terpaksa Menerima

Manusia sebagai khalifah dibekali otak untuk memakmurkan kehidupan di dunia, dibekali kelamin untuk berkembang biak dan dibekali dada/hati agar dapat merasakan secara langsung akibat dari perbuatannya berupa derita atau bahagia. Dan derita atau bahagia merupakan cermin dari adanya neraka dan surga di hari pembalasan kelak.

Tak hanya itu para Rasulullah pun diutus Allah sebagai suri tauladan dengan membawa Burhan untuk membedakan mana yang gelap dan mana yang terang, mana yang buruk dan mana yang baik, agar dalam menjalani hidup sang khalifah dapat bermanfaat bagi sesamanya “khairunnas anfau’hum linnas” bahkan lebih dari itu, “inna akromakum inda’allahi atsqokum”.

Tubuh manusia tak ubahnya wadah yang dialiri gerak hidup [ruh] untuk menjadi wakil Allah di dunia. Yang namanya wadah tarpaksa atapun rela tetap saja wadah sebagai tempat menerima. Nah menerima ini kalau diibaratkan seperti sungai mengalirkan air dari hulu hingga ke hilir, mengalir dari ketinggian hingga sampai ke tempat-tempat yang lebih rendah dibawahnya yang pada akhirnya akan bermuara kelautan yang luas.

Kondisi wadah inilah yang perlu diperhatikan agar selalu dalam kondisi rela menerima kebaruan dan kekinian yang diterima oleh otaknya yang masuk melalui cerapan indera mata dan telinga yang selanjutnya dipersepsi [dirasa-rasa/dikira-kira] yang bersumber dari rekaman otaknya, lalu dibandingkan, dinilai dan dijatuhkan fonis. Ditolak karena dianggap salah atau diterima karena dianggap benar. Posisinya “benar/salah” adalah relatif tergantung dari sudut mana dan siapa yang memandangnya.

Contoh relatifnya adalah “babi itu haram untuk dikonsumsi”, kalimat ini diterima oleh orang-orang Islam karena adanya perintah untuk meninggalkannya. Namun ada juga yang menolaknya kalimat tersebut karena tidak adanya perintah yang melarangnya. Inilah yang saya maksud dengan “benar/salah” adalah relatif. Karena memang tiada kebenaran mutlak kecuali yang Maha Benar itu sendiri yang Mutlak Benarnya.

Keterpaksaan dalam menerima akan berdampak pada perubahan suasana [reciever/dada/hati/rasa] menjadi ketidak nyamanan dari sebelumnya. Inilah kenyataan yang seringkali terjadi. Alih-alih ingin berada di suasana yang nyaman tetapi karena ketidak relaan wadah dalam menerima yang di dapat malah rasa sebaliknya. Yaitu rasa prahara, rasa derita, rasa pedih, rasa kesal, rasa gundah, rasa marah dst. dan sungguh rasa-rasa itu begitu amat menyiksa alias berada dalam miniatur neraka.

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa rela menerima itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak seperti mengedipkan kedua belah mata. Ya, ikuti saja pergerakan hidup dengan rela dari menerima yang satu ke menerima yang lainnya agar tidak menjadi beban bagi si wadah itu. Alirkan saja seperti air yang mengalir di sungai hingga sampai ke lautan yang luas. Maka, yang air akan bermuara ke air, yang tanah akan terurai kembali dengan tanah, yang udara akan menyatu dengan udara, dan yang asalnya dari Allah akan kembali kepada Allah.

[Al Fushshilat:11]
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Teguh

Read more...

Selasa, Juni 16, 2009

Teguh

Sebagai ilustrasi singkat seperti sebuah komputer yang dikoneksikan [kabel/nirkabel] ke dalam jaringan luas tanpa sekat batas alias internet. Koneksi internet [on-line] akan di dapat bila perangkat modemnya dalam kondisi aktif atau on.

Teguh orientasinya hanya kepada tujuan. Teguh kebergantungan kesadaran hanya kepada yang Maha Menyadarkan [adzkuruni adzkurkum – ingatlah Aku maka Aku ingat kamu]. Teguh atau istiqamah atau tiada khawatir atau tiada ragu alias tiada gamang sedikitpun atau ketetapan hatinya tetap [mantap] dan tidak berubah-ubah lagi karena cahaya iman menerangi dadanya

Lalu dari mana teguh itu timbul. Teguh timbul dari buah pembuktian seperti contoh “manisnya gula”. Teguh, tak cuma percaya pada kalimat yang mengatakan bahwa “gula itu manis“. Namun dibuktikannya dengan sungguh-sungguh. Dan ternyata memang benar adanya, “Ooo gula itu manis ya…”.

Ketika manisnya gula didapat dan dirasakan benar adanya manis, maka keteguhan atas manisnya gula ini tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai macam inputan yang bersifat eksternal. Seperti pengaruh berikut ini “gula itu pahit”, maka penikmat gula hanya terseyum-seyum saja dibuatnya.

[Al Ahqaaf:13]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah [teguh pendirian] maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.

[Fushshilat:30]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

[Maryam:65]
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

[Luqman :22]
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

[An Nisaa':175]
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

SUBSCRIBE TO [DETAK HIDUP]

ARTIKEL TERKAIT:
[01]• Mengenali Tanda Ada
[02]• Ingat Allah Ke Allah
[03]• Allah Maha Meliputi Segala Sesuatu
[04]• Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu
[05]• Suluk Wujil
[06]• Memanggil-Manggil Asma-Nya
[07]• Rela atau Terpaksa Menerima

Read more...
 

Bersama Detak Hidup

Wajah Detak Hidup

© Copyright by Magazine 1 Template | Template by Template4U And Blogspot Tutorial