Membuka Ruang Spiritual

Sebuah obsesi yang telah lama saya idam-idamkan, adalah untuk mengungkapkan rahasia spiritual menjadi sesuatu yang sangat gamblang dan mudah untuk dipahami. Saya pernah mengatakan bahwa perjalanan spiritual itu seperti orang menuju tidur. Kalau orang mau tidur membawa ilmunya, maka ia akan menjadi insomnia. Kalau tidur dipikirkan, maka ia menjadi intelektual (pemikir). Kalau tidur masih membaca buku, maka ia terjebak ke dalam persepsinya. Kalau tidur ia masih harus menghafalkan perjalanan tentang tidur, maka tidurnya menjadi tersasar kepada khayalan (schizophrenia). Kalau tidur dibahas dan didiskusikan, maka ia akan menjadi tukang debat. Kalau tidurnya masih bertanya bagaiman cara tidur, maka ia tidak akan menemukan tidur itu. “Allahu yatawaffal anfus hiina mautiha, wallati lam tamut fii manamiha…, Allah menggenggam roh ketika mati, dan ketika tidurmu.. “ Azzumar : 42).

Seorang ahli ilmu ketika menjelang ajalnya ditanya oleh Muridnya. Ia tidak ingin ketinggalan pengajaran dari Gurunya yang dianggap ahli di bidang agama. Ia ingin mendengar wasiat terakhir yang perlu dimilikinya sebagai pusaka, pegangan akhir hayatnya. Puncak dari semua harapan para Nabi dan para Wali. Akhir yang mennetukan diterima atau tidaknya seorang manusia dihadapan Tuhannya. Cita-cita agung yang disebut husnul khatimah. Akhir yang baik…!

“Guru..! dalam kondisi seperti ini (menjelang ajal) apakah Guru sudah mengenal Rupa atau Wujud Sang Pencipta?. Sang Guru dengan mahirnya mengungkapkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai landasan jawaban atas pertanyaan Muridnya. “Bahwa Allah sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Bahwa ilmunya meliputi segala sesuatu”. “Singkat saja Guru.., karena waktu Sangat pendek, apakah Guru sudah mengenal Wajah-Nya?” Desak Murid sableng ini. “Dia tidak sama dengan mahluk-Nya..!”, kata Sang Guru itu lagi. “Bukan Guru.., lebih singkat lagi Guru..!”, Sang Murid mendesak kembali. “Aku tidak tahu…”, kata Sang Guru setengah mengeluh. “Hahh…??? Mau bilang tidak tahu saja kok muter-muter dalil”, dalam hati Sang Murid berbisik.

“Guru, apakah Guru pernah melihat syurga dan neraka..?”. Tanya Sang Murid lagi. “Sesunggunya syurga itu tidak bisa dibayangkan oleh pikiran, tidak pernah di dengar oleh telinga, dan tidak pernah dirasa oleh hati manusia..”, jawab Sang Guru dengan dalil yang mantap. “Jadi kesimpulannya apoa Guru..?” desak Muridnya penasaran. “Aku tidak pernah tahu…”, jawab Sang Guru lirih.

“Satu lagi Guru, dari sekian banyak amalan Guru seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan mengajar kami, apakah Guru sudah tahu bahwa amalan Guru itu diterma oleh Allah SWT…?”, Tanya Sang Murid bertubi-tubi. Sang Guru hanya menggeleng dan berucap datar, “Aku tidak tahu..”.

“Guru, mohon petunjukmu yang terakhir apakah yang harus saya lakukan di saat menjelang ajal ini..? Tanya Sang Murid seperti berputus asa. “Aku tidak tahu….., aku hanya menunggu. Ya.., menunggu. Perjalanan kematian tidak perlu dipelajari, kecuali hanya berserah diri”.

“Allah-ku berkata: “Wahai jiwa yang tenang , irji’ii ila robbiki raadhiyatan mardhiyyah.., datanglah kepada tuhanny dengan cara merelakan rohanimu dan ridho, bukan dengan ilmumu dan amalmu. Dengan keadaan benar-benar tidak tahu, serba tidak tahu. Diamlah..!!!”. Karena Dia-lah yang akan membawa rohmu terbang menuju kehadirat-Nya. Araftu robbi bi robbi (aku dikenalkan Allah oleh Allah sendiri), bukan dengan ilmuku dan persepsiku.

“Kata allah-ku lagi: “Wasbhir wama shabruka illa billah…, sabarlah kalian, tetapi kalian tidak akan bisa sabar keculai dengan kekuatan Ku…, (An Nahl: 127)”, “Bersihkan hati kalian..! Namun kalaulah tiddak ada kekuatan dan rahmat-Ku, kalian semua tidak akan pernah bersih hati selama-lamanya. Akan tetapi Aku-lah yang akan membersihkan hati kalian… (An Nuur: 21)”.

Perjalanan rohani adalah keinginan kita, namun tindakan selanjutnya keinginan Allah sendiri yang menguasai. “Barang siapa bersungguh-sungguh dating menuju Kami, pastilah Kami akan menunjuki mereka jalan-jalan Kami..,(Al Ankabut: 69) “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (Al Insyiqaaq: 6)

Saya pernah bertutur kepada saudara Yusdeka Putra ini dalam kajian malam jum’atan, bahwa Jalaludin Rumi berputar-putar mencari posisi rohani agar menemukan sang ahad. Lalu Al-Junaid mencari kesejatian dirinya sehingga ia menemukan Allah dalam dirinya sendiri. Mohammad Iqbal terkenal dengan penyatuannya dengan butir-butir materi (atom) sehingga ia mengatakan akulah semesta ini.

Dan sang iblis yang merupakan mantan penghuni syurga, sampai sekarang duduk dihadapan Allah menyatakan Allah-ku Esa (Ahad), Sang Perkasa dan Kuasa atas segala sesuatu. Iblis berkata: “fa bi ‘izzatika laughwiyannahum ajma’iin illa ibadakal mukhlashin…, Wahai Rabb-ku, aku mohon daya untuk mengganggu seluruh manusia kecuali hamba-Mu yang Engkau beri daya keikhlasan” (Shaad: 82-83).

Lalu…, dimanakah letak perbedaan iblis tersebut dengan para pendaki pucak kema’rifatan seperti kalian..? Kita satu Tuhan dengan para iblis, satu kesepakatan bahwa Allah esa ada-Nya, satu kesepatakan bahwa Allah dekat ada-Nya. Bahwa Dia Maha segala-gala-Nya. Bedanya hanyalah saat iblis berkata ketika ditanya oleh Allah: “Mengapa kamu tidak menghormati adam..?” “jawabnya “Ana khairun minhu, akulah yang lebih tinggi dari Adam”.

Ketinggi spiritual bukan berarti selesainya tanjakan yang sudah kamu lalui, akan tetapi dia bermakna tetang bagaimana posisi kejiwaanmu sendiri. Kalau masih ada perpecahan di dunia spiritual, maka tidak ada bedanya dengan ahli fiqh yang pada akhirnya akan menciptakan mazhab-mazhab spiritual. Kalau memang mereka bersatu dengan alam atau menjadi alam itu sendiri (kesadaran makro-kosmos), maka tubuhnya adalah tubuh kita, jiwanya adalah jiwa kita. Kita sering mengatakan bahwa pada orang-orang syariat sering terjadi kericuhan dan perseteruan, akan tetapi diantara para spiritualis sendiri, tanpa disadarinya juga telah banyak kita temui suasana saling merasa sudah paling dekat dan ma’rifat kepada Allah, lalu meremehkan orang lain.

Dengan perjalanan saudara Yusdeka Putra ini, yang dimilis Dzikrullah lebih dikenal dengan nama Deka, kita dibawa melalui sebuah kajian mendalam untuk mencapai posisi spiritual yang sangat berbeda dengan kaum yang membuat mazhab spiritual. Karena spiritual itu sendiri sesungguhnya bersifat unibersal. Begitu ktia keluar dari keuniversalan, maka seketika itu juga kita akan keluar dari tatanan ruang spiritual. Ketika kita sakit hati, maka kita sudah tidak universal lagi. Spiritual adalah seorang pendamai, bekerja dengan hatinya, tersenyum dengan hatinya, menghormati orang yang telah membuatnya lebih baik, menghargai kaum syariat yang baru belajar agama. Memandang orang sebagai sabahat.

Bahkan seorang spirtualis sejati akan mampu menjadikan kaum yang memusuhinya dan sakit hati kepadanya sebagai “partnernya” di dalam mengetahui kedudukan rohaninya. Rasulullah suci hatinya karena karena didampingi oleh Abu Jahal yang selalu membenci Beliau. Nabi Musa disebut baik karena didampingi oleh Fir’aun yang penuh dengan angkara murka. Nabi Nuh disebut sabar karena didampingi oleh anaknya yang durhaka. Nabi Isa disebut suci (ruhul qudus) karena didampingi oleh muridnya yang menghianatinya. Nabi Yusuf disebut mukhlas (iklas) karena didampingi oleh Siti Zulaikha yang selalu menggodanya untuk berbuat tidak baik. Itulah yang disebut Furqanan, pembeda…!, agar kalian tahu siapa dirimu sebenarnya.

Tulisan diatas hanya sekedar pengantar buku saja,  yang disampaikan Abu Sangkan kepada Yusdeka Putra.

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



7 Komentar:

asoka mengatakan...

Asholati khoirum minan nauum...
Memang sholat lebih baik dari tidur. Orang gak sholat seumur-umur gak papa, tapi orang gak tidur seminggu bisa meninggal.... hehehe.... :D

Kadang susah menggapai keuniversalan, karena memang individu itu sangat unik, sangat beragam. Universal itu di ranah lain, paling gak di ranah jiwa, ranah hidup. Universal itu susah senang sama saja, baik buruk sama saja, beda gak beda sama saja... :D

DetakHIDUP mengatakan...

Kalau mau ditarjim ke dalam bahasa sehari-hari (kebiasaan), atau bisa juga meminjam bahasanya dokter, pake lagu juga boleh…, itupun kalau mau, ya kalau enggak juga nggak apa-apa, seperti ini… (Tidurmu cukup delapan jam saja….., he.. he.. he… )

Asholati khoirum minan nauum..., mengapa demikian? Memang begitu adanya. Karena menurut sunnah shalat adalah mi’raj-nya orang mukmin kepada Allah SWT., makanya shalat menjadi tempat Rasulullah dan para Sahabat-Nya mencari jawaban atas masalah-masalah yang mereka hadapi dan tempat mereka menemukan istirahat jiwa dan kebahagiaan (hayya alal falah). Dan tidak berhenti sampai disitu, ada juga yang lainnya seperti Robbighfirli... Warhamni...Wajburni... Warfa'ni... Warzuqni... Wahdini... Wa'afini... Wa'fuanni..., dan seterusnya. Lalu bagaimanakah dengan kita? Bukankah kita perlu bukti agar percaya & yakin? Kalau begitu, mari kita buktiin saja sendiri-sendiri, biar nyakseni kebenaran dari apa-apa yang pernah disampaikan Rasulullah itu adalah benar adanya. Al-Amin.

Mengapa orang gak sholat seumur-umur gak papa tapi orang gak tidur seminggu bisa meninggal? He... he.. he.., baru dengar… and baru tau…, ada orang gak tidur seminggu bisa qoit? Kalau perkara bisa mati mah.., semua juga bakal mati, gak cuma seperti contoh di atas, lagi tidur juga bisa mati, lagi melek juga bisa mati, sedang asik bercinta juga bisa mati. Dan perkara datangnya mati itu kapan? Ya, tidak tahu, karena itu urusan Yang Maha Punya Tahu. Terkait Perkara badaniah akan selalu terhubung dengan sunnahtullah, sedangkan perkara peshalat yang lalai, dan atau tidak shalat seumur-umur, sama sekali tidak berhubungan dengan ajalnya bersangkutan.

Diri yang universal atau diri yang tenang (nafsul mutmainnah), masih di ranah nafs-nafs juga dan bukan di ranah ruhiah. Wong namanya juga kulit bawang, ya.. siapa pun yang mau mengelupasinya, ya monggo… “begitu aja kok repot”, kata guspur. Dan cirinya diri yang universal (nafsul mutmainnah) adalah pada nafsnya sudah tidak ada lagi rasa kekhawatiran dan tidak ada kesedihan (la khaufun alai him wala hum yahzanun). Maksudnya bergini…, ketika sang diri sudah ada di posisi tenang, maka maka otaknya tidak lagi dihantam oleh badai pikiran serta dadanya tidak lagi dihantam gelombang perasaan. Singkatnya, kesadarannya sudah berada di atas pikiran dan perasaannya, yang ada saat ini, yang berlalu, yang menyapa pikiran dan menyapa rasa, hanya sekedar lewat doang atau tepatnya singgah di otak tidak menjadi beban pikiran dan singgahnya di dada tidak terasa khawatir dan sedih.

Anonim mengatakan...

mas...
aq izin copy paste yah...,
aq taruh di forum2 spiritual yah...

semoga ilmu(tulisan mas)dapat menjadi amal jariah bagi kita semua, khususnya saya pribadi.

Much Tohar mengatakan...

Ndak sholat seumur hidup tidak apa-apa, tapi orang tidak tidur seminggu bisa mati. Memang itu bener mas, tp tidak sholat artinya juga mati kok, yang mati rasanya, rohnya mati alias kering kerontang. Kalau cuma tidak tidur seminggu sebenarnya tidak akan membuat mati karena saya sendiri sudah membuktikan sendiri tidak tidur 3 hari 3 malam juga alhamdulillah sehat sampai sekarang. Bahkan kalau mau dihitung dalam sehari semalampun tidur tidak lebih dari 4 jam.. ya sehat sampai sekarang.

abdul mengatakan...

Orang tidak tidur seminggu bisa mati? Saya tidak tahu karena ada Allah yang maha kuasa atas segala sesuatu. Mengenai mati kita serahkan saja sepenuhnya kepada-Nya.

Mati rasanya, rohnya mati alias kering kerontang, adakah?
Nafs memiliki kencederungan [fitrah] ketubuhan, kadang mengajak keburukan, kadang menyesal dan kadang tenang. Nah perubahan itu disebut qolb yang senantiasa beruabah2, terbolak-balik, maju-mudur senang-susah, tersiksa-bahagia, gelisah-tenang dst. oleh sebab persepsi pikiran.

Ketika penglihatannya tidak lagi digunakan untuk melihat petunjuk2-Nya, pendenganrannya tidak lagi mematuhi perintah dan larangan-Nya, bahkan hati [dada] lalai dari mengingat-Nya. Hatinya membatu, keras, alqurnya menyebutnya dengan “fi qulubihim maridh”.

@bah4ql1 mengatakan...

tubuh fisik kita butuh makan paling tidak 3 kali sehari - nah bagaimana rasanya kalau tidak makan 3 hari atau sampai 1 minggu

begitu pula dengan jiwa kita (nafs) butuh sholat 5 kali sehari - nah bagaimana rasanya kalau tidak sholat - kita sendiri yang bisa merasakannya - karena laparnya jiwa tidak seperti laparnya tubuh fisik, laparnya jiwa = "pernahkah kau merasa ... jiwamu hampa?"

abdul mengatakan...

apakah jiwa itu punya rasa haus dan lapar kaya tubuh dan butuh diberi makan dan minum? bagi yang setuju silahakan dilanjutkan memberi makan dan minumnya.

bagi saya fitrahnya jiwa adalah kembali kepada Allah.

Posting Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner