NATO (Not Action Talk Only)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Ash Shaff: 2-3)

Menurut pemahaman saya, agama ini memang bukan untuk dibahas, bukan untuk didiskusikan, bukan untuk debatkan, dan buan pula untuk dipertentangkan. Agama ini ternyata hanyalah sebuah ilmu, kemudian dipraktekkan, kemudian menyampaikan kesaksian bahwa benar lho agama itu kalau dipraktekkan menjadi begini dan begitu, sehingga iman kita bertambah terus kepada Allah..., dan selesai sudah. Orang mau percaya atau tidak, orang mau berpendapat begini dan begitu, ya ndak masalah...

Agama sebagai ilmu, juga hanyalah sangat sederhana sekali. Yaitu menerangkan bagaimana caranya agar kita memulai segala aktivitas kita dalam kegembiraan atau kebahagiaan. Karena ternyata kegembiraan, kebahagiaan itu menyimpan DAYA, POWER yang sangat besar. Dan tidak salah memang Al Qur'an meletakkan KEBAHAGIAAN ini sebagai PINTU MASUK kedalam dunia SPIRITUAL. Qad Aflahal Mu'minun, sungguh berbahagia orang beriman itu...., begitu kata Pa Deka, lihat aslinya klik di sini

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



5 Komentar:

Anonim mengatakan...

Agama sebagai ilmu dan agama sebagai praktik.
Sangat kontekstual.
Agama bisa benar, bisa salah, sebagaimana konteks si pemaham.

Agama sebagai pintu kebahagiaan.
Sangat sepakat.
Jadi kalau orang beragama tidak berbahagia, artinya tidak kontekstual, dan ada yang tidak benar dengan pemahaman ilmu dan praktik agamanya. :)

T.T.

DetakHIDUP mengatakan...

Saya memahami artikel diatas seperti ini… Terkait menjalani agama dan meyakini kepercayaan, sebenarnya hanya nafsi-nafsi saja posisinya. Dengan maksud, monggo, silahkan, jalani keyakinan itu sendiri-sendiri, dengan saling menghormati, menghargai kepercayaan dan keyakinan masing-masing yang dijalani.

Sebagaimana dijelaskan Q.S Al-Kafirun ayat 1-6 “Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

Agar muatannya menjadi jelas, saya mencoba mengurainya ke dalam beberapa aspek makna. Dan aspek makna ini bukanlah suatu yang dikhotomi, tetapi satu kesatuan yang utuh, seperti madu dengan manisnya yang tidak bisa dipisahkan.

Syariat: membahas aspek dalil atau nash, seperti aqimush shalata wa atuz zakata (dirikanlah shalat. dan bayarlah zakat ( An nisa': 77 )

Thariqah: membahas aspek praktis dan kesempurnaannya, bagaimana takbir yang baik, rukuk yang baik, sujud yang baik serta mengatur perjalanan rohani agar tidak menyimpang dari shalat.

Hakikat: membahas aspek ruhiyah, masalah hikmah atau dampak dari pelaksanaan syariat, seperti dalam "inna shalata tanha anil fahsyai wal munkar", sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (Al Ankabut :45), untuk itu bagi orang yang shalat namun ia tidak mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka orang tersebut tidak mendapatkan hakikat dari shalat, sehingga Allah mengkritik peshalat dalam surat Al Maun : 4-6) :"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) oang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu orang-orang yang berbuat riya"

Ma'rifat: adalah orang yang telah mengalami keadaan shalat tersebut secara transenden, orang yang merasakan manisnya iman, ... orang yang merasakan kelezatan shalat dan orang yang mengetahui tentang Allah (makrifatullah).

Maka ketika madu sudah terbukti manisnya, maka sang penyaksi madu manis itu tinggal menyampaikan kesaksiannya, yaitu “wata shaoubil haq watawa shoubishabr, .. nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al ´Ashr: 3).

Masalah orang mau menerima/tidak kesaksiannya itu, ya endak masalah bagi si penyampai, karena tugasnya hanya menyampaikan, selebihnya Q.S. Al-Qhashas ayat 56, menjelaskan “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”

Akhirnya jika orang beragama tidak berbahagia dalam menjalani agamanya, tidak berarti ada kesalahan dalam ilmu dan praktiknya, tetapi ada yang sakit dalam hatinya.

asoka mengatakan...

Jadi kalau orang beragama tidak berbahagia, artinya tidak kontekstual, dan ada yang tidak benar dengan pemahaman ilmu dan praktik agamanya.

Akhirnya jika orang beragama tidak berbahagia dalam menjalani agamanya, tidak berarti ada kesalahan dalam ilmu dan praktiknya, tetapi ada yang sakit dalam hatinya

Sepakat Kangmas, Tidak benar dengan pemahamannya, ya sakit pikirannya, ya sakit hatinya, ya sakit nafsnya, ya sakit jiwanya.... :D

DetakHIDUP mengatakan...

Monggo tidak sepakat, memang tidak harus sepakat ko, he.. he.. he..
Saya memahami dengan apa yang saya tahu, kalau mau dipahami dengan konsep yang berbeda juga tidak apa-apa… lalu enggak sepakat lagi, ya monggo-monggo wae.

Ada “Diriku”, berarti ada diri (nafs) yang tampak dan ada sang Aku (ruh) yang tersembunyi. Sang Aku, ada yang menyebut jiwa, ruh, roh, nyawa, dll., tetapi saya lebih klop menyebutnya dengan nama Ruh, karena Al-Qur’an menyebutnya dengan min-ruhi.

Sedangkan diri disebut juga nafs adalah tubuh ini.
Nafs selalu berubah-ubah, naik-turun, maju-mundur, kadang amarah, lawwamah, amaratu bisuu, bisa juga menjadi nafsul mutmainnah. Sang nafs yang berubah-ubah itu alquran memanggilnya dengan qolb (si bolak-balik) atau hati.

Jadi hati atau qolb itu berarti meliputi semua kondisi sang nafs.

“Fi qulubihim maridun fazada humullahu marodo, Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya” Al-baqarah: 10).

Anonim mengatakan...

klo mengenai sepakat g sepakat mah... rosul berkata "setiap manusia punya kepala, setiap kepala punya pikiran, setiap pikiran punya pendapat.

dan klo kepala n pikiran ane... sepakat banget neee ma tulisan diatas(NATO).

"agama memang bukan untuk dibahas".

Posting Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner