Menggapai Syukur

Tanpa merasakan nikmat-nikmat-Nya, maka tak bisa dipungkiri lagi diri kita tidaklah mungkin dapat menyampaikan terima kasih dengan rasa kebersyukuran yang sesungguhnya. Boleh jadi lisan mampu berkata namun hati tetap kokoh menolaknya. Ini lantaran hati tak tersentuh oleh nikmat-nikmat karena ditutup oleh keangkuhan diri.

Untuk menggapai syukur, ada baiknya kita mulai kembali peduli terhadap peristiwa riil yang terjadi di sekeliling kita. Dengan sikap mau belajar dan bersedia menerima pembelajaran sebagai awal buka kesiapan bertadabbur alam.

Persiapkan indera penglihatan, sediakan pendengaran serta libatkan penginderaan lainnya secara aktif sebagai pintu utama masuknya informasi ke dalam wadahnya yaitu otak. Dengan membaca tanda-tanda kekuasaan [af’al] Nya yang tergelar dalam kehidupan nyata. ”Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.

Salah satu fungsi dari otak kita adalah berfikir. Berfikir bila diperhatikan memiliki kecenderungan sulit diistirahatkan keberfikirannya, dan kecenderungan ke arah negatif berfikirnya. Akibatnya arah pikir lebih cenderung kepada buruk sangka ketimbang sangka baiknya, lebih cenderung kepada tidak suka daripada sukanya, dan lebih cederung kepada jeleknya dibanding baiknya.

Stop jangan diteruskan, kalau itu reka-reka pikiran saja. Hentikan dan jangan dilanjutkan, karena semua itu hanya sebatas kira-kira pikiran saja. Karena yang namanya kira-kira dan reka-reka itu bukanlah yang sebenarnya. Sebab yang benar itu bukanlah kira-kira atau reka-reka. Maka, seyogyanya jangan dituruti nafsunya, hentikanlah sifat kenegatifannya, jangan dipersempit kenetralannya dan jangan pula memasung sikap positif thinkingnya.

Berikan kesempatan pada hati kita untuk memahami dengan kelembutan rasa kasih sayang. Adalah suatu kenyataan rasa yang tiada lagi didalamnya terdapat rasa kebencian, rasa kedengkian dan rasa keangkuhan diri. Ini akan lebih bijak dan lebih sehat [positif] bagi diri dalam menangkap nikmat-nikmat Nya yang tak terbatas.

”Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda: Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu karena yang demikian itu lebih layak supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu”
[Bukhari – Muslim].

Lebih aktualnya lagi, mari kita amati perilaku orang yang diberi sesuatu dan atau orang yang ditolong. Karena dari keduanya pasti akan keluar ucapan kata terima kasih kepada yang memberinya dan atau kepada yang menolongnya.

Dalam konteks diatas sesungguhnya telah terjadi perubahan keadaan [kenyataan] yang mempengaruhi rasa diri, pertama adalah keadaan sebelum diberi dengan rasa tiada memiliki sesuatu, kedua keadaan setelah diberi sesuatu dengan rasa memiliki sesuatu. Dan ketiga adalah keadaan berterima kasih dengan rasa syukur.

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



0 Komentar:

Poskan Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner