Mengamati Syukur

Yang terpengaruh oleh peristiwa akan ketarik masuk dalam pengaruhnya peristiwa itu, kalau kejadiannya itu sedih, maka yang terpengaruh akan ikut sedih, kalau peristiwannya itu gembira, maka yang terpengaruh akan turut gembira. Seperti rasa yang hanyut dalam alunan gesekan biola yang meliuk-liuk iramanya. Padahal sebelumnya biasa-biasa saja.

Yang mudah dipengaruhi akan mudah dipermainkan, salah satu keadaannya mirip dengan anak-anak melihat tukang balon. Bila sudah terpengaruhi maka hasratnya akan tumbuh, bila telah tumbuh maka si anak akan mengikuti maunya hasrat, dan jika hasratnya tidak dipenuhi maka si anak akan kecewa, nangis, atau marah dan berbagai macam ekspresi lainnya yang menunjuk pada sikap-sikap ketaksukaan dan ketakrelaan atas keadaan yang menimpa dirinya.

Disinilah posisi konsennya kita, yaitu keluar dari sikap hidup kekanak-kanakan menuju sikap hidup kedewasaan, dengan terus berupaya menerima bahwa hidup itu merupakan anugerah Ilahi yang tiada banding dan tiada tanding nilai dan harganya, yang sudah semestinya dan sepantasnya patut kita syukuri keberadaannya, agar nikmatnya hidup itu terus tumbuh dan berkembang hingga berbuah manis rasanya.

Jika ada sisi yang terpengaruh kesadarannya, maka sudah pasti ada juga sisi sebelahnya yang tidak terpengaruh kesadarannya, bila ada yang terombang-ambing rasa perasaannya, sebaliknya pasti ada pula yang tidak terombang-ambing rasa perasaannya, keadaan ini disebut sebagai diri yang tenang, dalam suasana tenang, dalam suasana nikmat, dalam suasana kebersyukuran. "Wahai Jiwa yang tenang kembalilah kepada Robmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku". [Al-Fajr: 27-30]

Yang terombang-ambing rasa perasaannya merupakan akibat dari sebab kesadarannya tidak berpegang teguh pada Allah. Sedangkan yang tenang, yang rela kembali kepada Allah, pegangannya amat teguh kepada Allah ”WA’TASHIMU BILLAH...”.

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu...” [Ali Imron ayat 103]

”... Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. [Ali 'Imran: 101].

”Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus kepada-Nya". [An Nisaa': 175].

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



0 Komentar:

Poskan Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner