Menyelami Syukur

Yang di tolong akan merasakan pertolongan, yang merasakan pertolongan biasanya pasti akan menyampaikan rasa terima kasih kepada penolongnya. Namun bila yang tertolong tidak merasakan pertolongan, maka tiada mungkin keluar terima kasihnya yang menandakan kesyukurannya.

Ungkapan terima kasih ini merupakan tanda bahwa tertolong telah berada di rasa yang nikmat dari rasa sebelumnya yang tidak nikmat rasanya. Seperti sulit jadi mudah, tenggelam jadi mentas, terancam jadi aman, sempit jadi lapang, dan seterusnya dan sebagainya.

“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ...” [Al-Maa'idah: 2]

Yang menolong bersyukur kepada Allah karena bisa menolong, dan yang tertolong berterima kasih kepada penolongnya. ”Man lam yaskurinnas lam yaskurillah” Siapa saja yang tidak berterima kasih kepada manusia, tidak bersyukur kepada Allah.

Pertolongan dapat dari berbagai macam sebab. Namun hakikatnya hanya Allah yang bisa menolong, karena Dia yang maha menolong. Maha Cepat pertolongannya karena Allah maha dekat. Tiada yang lebih dekat pertolongannya kecuali Allah yang lebih dekat pertolongannya, karena Dia lebih dekat dari urat leher kita.

BOOKSearch: BEST SELLER BOOKS AND HOT NEW RELEASES? monggo :) KLIK DISINI (:   ««  Cara mudah cari referensi pustaka

Related Post



3 Komentar:

Tak Tik Boom mengatakan...

Bener banget bapak... saya udah ngelakuin kebaikan, tapi yang saya tolong tidak ada rasa terima kasih nya kepada saya :((

detak hidup mengatakan...

Rasa menolong. Ada yang merasakannya ringan, ada yang berat, dan ada juga yang kecewa.

Pertama, menolong dengan rasa ringan, biasanya ditandai oleh adanya dorongan kinginan untuk menolong, sehingga menolongnya itu dirasakannya ringan tanpa beban.

Kedua, menolong dengan rasa berat [hati], biasanya ditandai oleh tidak adanya dorongan kinginan untuk menolong, atau tidak menghendaki untuk menolong, sehingga di dalam menolongnya itu dirasakannya berat sekali, karena terpaksa. Dan ketiga, menolong dengan pamrih, sebenarnya sedang menuju kecewa .

Bila menolongnya itu rasanya tidak baik, berat dan kecewa, berarti si penolong sebenarnya sedang tidak merasakan menolong, tetapi sedang merasakan terpaksa atau sedang merasakan kecewa.

Agar tidak merasakan terpaksa atau kecewa, maka posisikan kembali pada awal amar-Nya, yaitu: ”tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan”, karena sebenarnya yang ditolong dan yang menolong sedang mengarah / menuju kebaikan dan ketaqwaan.

Ummiega mengatakan...

Semakin bersyukur, semakin bertambah...

Poskan Komentar

 
 

POPULAR Detak Hidup

KOMEN Detak Hidup

BACA Detak Hidup

 

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner